Abstrak
Salah satu kelemahan strategi konservasi adalah tidak adanya mekanisme
pemupukan dana konservasi secara lebih mandiri di tingkat komunitas sehingga
pembiayaan konservasi menjadi tidak berkelanjutan. Untuk mengatasi
kelemahan tersebut maka diperlukan mekanisme yang jelas dalam pemupukan
dana konservasi dengan memanfaatkan lembaga yang ada yang akan dijadikan
modal dasar konservasi (MDK). Sehingga dibutuhkan suatu model untuk
membangun MDK tersebut. Model ini nanti lebih memanfaatkan potensi
keswadayaan masyarakat baik cash maupun non cash serta potensi dari para
pelaku ekonomi aktif pedesaan untuk bersama membangun mekanisme
pembiayaan konservasi dengan membangun MDK. Oleh karena itu, diperlukan
penelitian untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat terkait konservasi.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan instrumen
identifikasi dan analisis kegiatan-kegiatan support dasar konservasi apa yang
paling menentukan atau mendukung kelestarian lingkungan suatu desa; potensi
cash dan non-cash masyarakat desa yang potensial dimanfaatkan sebagai
pendukung aktivitasdasar konservasi; kelayakan peluang pemanfaatan potensi
lingkungan sumber pemupukan modal dasar konservasi berkelanjutan, serta
Membangun sistem pengelolaan konservasi berkelanjutan untuk membiayai
kegiatan-kegiatan support dasar konservasi yang diperlukan oleh masyarakat.
Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara dan FGD ysng
dilaksanakan di empat kabupaten (Pasuruan, Malang, Blitar, dan Batu) dengan
jangka waktu 3 bulan. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan
kuantitatif. Dari hasil survei yang dilakukan didapatkan gambaran umum dari
masing-masing lokasi mengenai komponen fisik pendukung konservasi yang
meliputi jenis infrastruktur fisik pendukung konservasi, Jenis Tanaman
Pendukung Konservasi, Kegiatan Kelembagaan Pendukung Konservasi, sarana
dan prasarana, serta aktivitas lain yang mendukung untuk kegiatan konservasi.
Dan juga komponen non fisik berupa pengetahuan masyarakat tentang
konservasi dan tingkat kepentingan dari komponen fisik pendukung konservasi.
Untuk mengetahui potensi cash dan non cash salah satunya bisa dilihat
dari pendapatan per bulan yang diterima masyarakat di daerah penelitian.
Masyarakat di daerah penelitian memiliki potensi baik cash maupun non cash
(hasil usaha tani dan ternak). Dilihat dari potensi tersebut masyarakat mampu
untuk menyisihkan sebagian kecil dari pendapatannya untuk kontribusi kegiatan
konservasi di daerah masing-masing. Dari hasil identifikasi kesediaan untuk
kontribusi didapatkan bahwa sebagian besar/ hampir seluruh responden bersedia
untuk membayar kontribusi tersebut. Hasil analisis regresi logit diperoleh bahwa
yang berpengaruh secara signifikan adalah usia responden, tingkat pendidikan,
jenis kelamin, dan tingkat pendapatan per bulan.
Tahapan yang bisa dilakukan dalam menentukan dan memanfaatkan
potensi lingkungan sebagai modal dasar konservasi adalah sebagai berikut:
Tahap pertama, identifikasi permasalahan dan potensi lingkungan. Tahap kedua,
introduksi teknologi. Tahap ketiga, identifikasi langkah-langkah strategis. Tahap
keempat adalah tahap implementasi dan evaluasi. Dalam implementasi
dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak mulai dari masyarakat, tokoh
masyarakat, lembaga formal dan informal serta keterlibatan dari berbagai pihak.
Arah kedepannya adalah bagaimana lembaga di desa tersebut memiliki
kesadaran dan komitmen akan pengelolaan konservasi secara berkelanjutan.