Abstrak
Sistem Inovasi Daerah (SIDa) merupakan sebuah pola pendekatan pembangunan daerah
yang dilakukan secara sistemik dan sistematis. Dalam dasawarsa terakhir ini terjadi pergeseran
dari ekonomi yang berbasis industri menuju ke ekonomi berbasis pengetahuan. Selain itu, daya
saing daerah ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan modal SDM melalui inovasi. Kondisi
ini mendesak dibentuknya suatu sistem untuk mengatasi permasalahan di masyarakat yang
semakin kompleks.
Kajian ini membahas tanaman porang, tanaman ini mempunyai prospek yang
menjanjikan karena memiliki nilai ekonomi yang bisa dikembangkan. Selain itu, manfaat porang
banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, Secara umum kajian ini bertujuan membuat
analisis tentang implementasi pengembangan SIDa Porang di Kawasan hutang di Jawa Timur ,
dengan studi kasus pada Kabupaten Banyuwangi, Jember, Kediri dan Madiun. Secara khusus
kajian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kebijakan pemerintah daerah dalam
mengimplementasikan pengembangan SIDa Porang.(2) Mengetahui langkah-langkah yang telah
dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka pengembangan SIDa Porang.(3) Mengetahui
faktor-faktor pendukung pengembangan SIDa Porang. (4) Mengetahui faktor-faktor penghambat
pengembangan SIDa Porang.
Penelitian ini adalah penelitian terapan, dengan jenis penelitian deskriptif, yaitu
penelitian yang bertujuan mendeskripsikan jawaban atas permasalahan penelitian yang telah
dirumuskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah daerah dalam
mengimplementasikan pengembangan SIDa Porang perlu dukungan semua pihak. Mulai dari
pemerintah daerah, perhutani, kelompok masyarakat dan lembaga pemerintah terkait. Untuk
meningkatkan nilai jual dari porang glukomanan di pasaran, perlu dirancang system inovasi
daerah yang melibatkan pemerintah daerah setempat, perguruan tinggi, balitbang daerah, kadin,
serta masyarakat petani porang. Inovasi pertama yang harus dilakukan terkait budidaya porang,
adalah inovasi budidaya dan kultur jaringan, sehingga bisa membantu petani porang. Kedua,
selama ini tanaman porang yang tidak diolah nilai ekonominya kurang. Sehingga perlu
dipikirkan bagaimana inovasi untuk proses manufakturingnya.
Untuk mengimplementasikan pengembangan SIDa Porang di Jawa Timur, maka harus
dilakukan mulai dari hulu sampai dengan hilir. Dimulai dari mencari bibit tanaman porang
unggul, penelitian teknik penanaman yang tepat, sosialisasi kepada masyarakat, khususnya yang
berada di kawasan hutan untuk mengembangkan penanaman porang, serta ketersediaan industri
pengolahan umbi porang sampai menjadi tepung glukomanan. Sehingga nilai tambah umbi
porang dapat dirasakan masyarakat dan dapat mengurangi impor tepung glukomanan.