Abstrak
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan intervensi pemerintah untuk meningkatkan status gizi, kesehatan, dan kapasitas belajar anak sekolah. Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kecukupan gizi menu, tetapi juga oleh tingkat penerimaan siswa, karena penerimaan yang rendah
berpotensi meningkatkan sisa makanan (food waste) dan mengurangi manfaat program. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerimaan MBG pada anak
sekolah berdasarkan karakteristik sosial-demografis dan status gizi, pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi siswa, karakteristik menu dan kandungan gizi makro
(energi, protein, lemak, dan karbohidrat), tingkat konsumsi dan sisa makanan, preferensi menu, serta persepsi siswa terhadap dampak MBG pada semangat dan konsentrasi belajar. Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif selama lima hari pengamatan. Penilaian penerimaan makanan dilakukan menggunakan metode visual comstock. Penelitian melibatkan 650 siswa SMP di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, dengan 311 siswa dianalisis lebih lanjut. Analisis menu difokuskan pada porsi besar siswa usia 13–15 tahun dan dibandingkan dengan target 30% Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian sebagai standar pemenuhan kebutuhan gizi pada waktu makan siang, sesuai Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa SMP penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo berada pada status gizi normal berdasarkan IMT/U (67,8%), namun masih ditemukan masalah gizi ganda berupa gizi kurang (sangat kurus 1,2% dan kurus 5,8%) serta gizi lebih (gemuk 18,2% dan obesitas 6,9%). Sebagian besar siswa memiliki pengetahuan gizi tinggi (86,3%) dan sikap positif terhadap MBG, namun tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan gizi dan status gizi siswa (p = 0,097). Perilaku konsumsi menunjukkan tingginya sisa makanan, terutama pada komponen sayur dan lauk nabati, meskipun secara keseluruhan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan gizi dan kebiasaan menghabiskan makanan (p = 0,021), yang tidak konsisten antarwilayah. Analisis menu menunjukkan ketidakkonsistenan pemenuhan gizi makro, dengan defisit energi dan karbohidrat yang dominan, di mana kontribusi energi menu berkisar antara 393,7–680,4 kkal per porsi makan siang, jauh dari target 668–779 kkal, serta perbedaan ekstrem antarwilayah pada hari yang sama. Meskipun MBG dinilai meningkatkan semangat dan konsentrasi belajar siswa, penelitian ini juga menemukan dampak negatif berupa penurunan kebiasaan sarapan pada 35,7% siswa, serta adanya laporan makanan terasa basi, keluhan sakit perut, dan keraguan terhadap kebersihan alat makan, yang menunjukkan kelemahan pada aspek pengendalian mutu dan sanitasi program. Secara keseluruhan, MBG memiliki penerimaan yang cukup baik, namun masih menghadapi tantangan pada konsistensi pemenuhan gizi dan konsumsi sayur. Diperlukan penguatan monitoring dan evaluasi, standarisasi pelaksanaan program, serta pengembangan rekomendasi berbasis konteks lokal untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan MBG.