Abstrak
Pengembangan budaya literasi di Jawa Timur dihadapkan pada tantangan
tingginya angka buta aksara/huruf. Pengentasan buta huruf/aksara menjadi
prioritas program melalui kebijakan peningkatan aksestabilitas pelayanan
pendidikan di setiap jenjang pendidikan baik formal maupun informal. Ditunjang
dengan dengan layanan perpustakaan dalam pengembangan minat dan budaya
baca yang lebih dekat dengan masyarakat di wilayah pinggiran atau pedesaan.
Tumbuhnya berbagai komunitas literasi di masyarakat menunjukan perkembangan
budaya baca yang signifikan di tengah masyarakat. Misalnya, melalui Taman
Baca Masyarakat (TBM) memiliki program pengembangan literasi dengan
sasaran kelompok penduduk usia sekolah. Cakupan kerja TBM berada pada
lingkup paling kecil di tingkat desa dan mengisi ruang-ruang publik yang
disediakan oleh pemerintah. Berbagai program pengembangan literasi ini ingin
mencapai sasaran yang lebih luas, tidak sekedar terkait kemampuan membaca atau
menulis tetapi aksestabilitas sumber informasi untuk pengembangan diri,
peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perningkatan kualitas hidup.
Empowering Eight atau E8 menjadi pendekatan teoritik untuk menjelaskan
pengembangan budaya literasi berbasis komunitas di Jawa Timur. Dengan metode
dekriptif kualitatif, penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Timur dengan
mengambil sampling lokasi penelitian secara purposive yaitu Kota Surabaya,
Kabupaten Malang, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Sampang diharapkan
mampu mewakili kondisi pengembangan literasi di Jawa Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pengembangan budaya
literasi di Jawa Timur, antara lain: pertama, meski kinerja pemerintah di bidang
pendidikan terus meningkat tetapi hingga tahun 2015 masih ditemukan sebanyak
7,83 persen penduduk masuk kategori buta huruf/aksara. Selain peningkatan
aksestabilitas layanan pendidikan dasar 9 tahun dan 12 tahun, pemberantasan buta
huruf juga dapat dilakukan dengan menigkatan layanan pendidikan informal
seperti program Kejar Paket A, Kejar Paket B dan Kejar Paket C. Kedua, layanan
penunjang peningkatan minat budaya baca melalui program perpustakaan,
perpustakaan keliling dan perpustakaan desa/kelurahan terus mengalami
peningkatan. Optimalisasi dapat dilakukan dengan upaya peningkatan koleksi,
jangkauan perpustakaan keliling dan sebaran perpustakaan desa/kelurahan,
peningkatan kualitas pengelolaan dan sumber daya manusia. Ketiga,
pemberdayaan kelomok literasi yang ada akan mendorong pengembangan literasi
di masyarakat melalui beberbagai layanan literasi. Peran pemerintah dapat sebagai
fasilitator untuk peningkatan kualitas kelembagaan kelompok literasi yang
berkembang di masyarakat, baik TBM sebagai inisiatif pemerintah maupun
kelompok literasi secara mandiri dari masyarakat. Sinergitas kebijakan
aksestabilitas pendidikan, layanan perpustakaan dan pemberdayaan kelomok
literasi akan mendorong peningkatan dan pengembangan budaya literasi di Jawa
Timur. Pencanangan Jawa Timur sebagai “Provinsi Literasi” menjadi wujud
komitmen pemerintah dalam mewujudkan visi-misi pembangunan adalah
mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing global,
berkelanjutan menuju Jawa Timur dan makmur dan berakhlak.